bunga depan rmh

Januari 28, 2008

bunga dpn rumah

14 Februari

Januari 28, 2008

Pagi yang cerah dengan matahari bulat seperti telur mata sapi. Bunga sangat suka matahari yang seperti ini, matahari kelihatan sempurna tanpa ada awan tipis yang menyelimuti sinar matahari terbit itu. Ia selalu meliahat matahari terbit di jalan ketika ia menuju ke sekolah, dan hanya matahari yang seperti ini yang Bunga tunggu-tunggu. Sinar matahari itu terpantul dari gedung-gedung tidak terpencar, indah sekali.
Seperti biasa ia terlambat tiba disekolah. Setelah melewati hukuman, ia menaiki tangga ke lantai tiga di mana kelasnya berada. Kakinya sakit sekali karena hukuman terlambat barusan berwujud lari memutar lapangan tujuh kali. Tapi itu sudah biasa baginya. Yang tidak biasa adalah ketika ia masuk kelas tidak terdengar suara celaan Choco karena ia terlambat. Ya, si “penyedot debu” itu.
Ia jadi teringat waktu pertama mereka bertemu. Saat upacara bendera pertama kali di SMA Dandylion. Bunga datang sewaktu bel berbunyi. Pada saat siswa-siswi lainnya sibuk mencari barisannya, Bunga malah panik karena ternyata ia belum belajar memakai dasi SMA. Sekolah SMP Bunga dahulu memakai dasi kupu-kupu. Alhasil, Bunga berusaha meminta bantuan ke siswi baru lainnya. Namun semua anak sibuk mengurus urusannya masing-masing. Mereka takut dengan peraturan yang ada. Bunga juga takut hari pertamanya terkesan konyol, ia membayangkan di hukum di bawah tiang bendera karena ia tidak dapat memasang dasi SMA. Lalu menyingkirlah ia dari keramaian, dan mencoba memasang dasi dengan format ala kadarnya. Ia berjalan ke belakang gereja. Sekolah itu merupakan sekolah swasta Kristen. Di tengah-tengah bangunan sekolah ada sebuah gereja tua yang sangat besar, dan dibelakangnya ada tempat duduk dan meja kayu yang panjang. Duduklah Bunga di situ kemudian meneruskan mencari format bentuk dasi. Tiba-tiba datang siswa baru pula kebelakang gereja tua tersebut sambil memutar-mutar dasinya yang belum terangkai menjadi dasi. Ia terkejut saat melihat Bunga yang duduk di bangku tepat di samping ia berdiri.
“anak baru juga..” sapa Bunga.
Siswa itu hanya mengangguk sambil menatap tajam Bunga. Bunga membalas tatapan cowok itu dengan senyum. Lucu, pikir Bunga ada anak cowok yang tidak bisa memasang dasi. Dasi Bunga telah selesai dipasang ala kadarnya, kemudian ia berdiri dan menuju ke barisan yg sudah mulai disiapkan. Ia tak mau ketinggalan upacara pertama di SMU. Ketika melangkah pergi, siswa baru itu memanggil.
“heh..”
Bunga berhenti melangkah.
“gue?” Bunga belagak bodoh sambil menunjuk dirinya sendiri.
“iya. Elo.”
Bunga tidak jadi melangkah. Dan bersiap mendengar lanjutan kalimat cowok itu.
“bisa pasangin dasi gue?” kata cowok itu dengan lagak sok.
Bunga bersiap meninggalkan anak songong itu.
“please tolongin gue dong.. cinta …” terdengar suara cowok itu lemah.
“Bunga.”Bunga menyahut cepat. Mencoba mengganti kalimat cowok tadi.”nama gue Bunga bukan ‘cinta’ .”

Berhubung Bunga anak baik nan sopan maka lemahlah ia dengan cowok yang bertampang memelas itu. Segera ia menyentuh dasi yang lunglai di dada cowo itu, dan kemudian mulai merangkai format ala kadarnnya.
Sambil merangkai, ia merasa ada sesuatu yang lain dalam dirinnya yang belum pernah ia rasa sebelumnnya. Bunga menatap cowo itu. Lalu ia mendapatkan jawabnya. Bunga tahu apa artinya rasa yang baru kali ini ia rasa, yang telah lama ia tunggu, yang sangat ingin ia miliki..
Ia terus menyangkal rasa itu, dan bahkan mencela dirinnya sendiri.
Bunga menatap cowok itu sambil terus memasang dasi. tampan dan tinggi. Matanya coklat muda terang. Rambutnya coklat. Bila dilihat lagi persis seperti aktor tampan Cristian Sugiono.
Jantungnya berdegup.Mereka saling menatap.
Terlihat seperti mereka dapat saling membaca pikiran hanya dengan menatap.
“dah..” kata bunga sambil merenggangkan pegangan tangannya dari dasi cowok itu. Mukanya merona.
“kok..ga rapi!? Simpulnya asal-asalan lagi !kalo dari awal ga niat, ga usah bantuin pasangain !” seru cowok itu sambil melihat dan memegang-megang dasinya.
Bunga menatap sadis cowok itu. Kali ini dengan muka merona yang berarti lain.
“sapa suruh minta bantuan gue ?!” Bunga berlari ke arah barisannya. Bunga kesal sekali anak cowok tadi tidak menghargai bantuannya. Tapi kemudian terdengar dari kejauhan.
“makasih ya cantik!” itu suara cowok tadi. Cowok yang sebentar menyela, sebentar lagi berkata-kata norak. Yang bunga tahu, anak itu akhirnya tetap mengikuti upacara, dengan rangkaian dasi yang Bunga buat.
Setelah upacara selesai, mereka mulai pembagian kelas. Kelas satu dibagi menjadi dua kelas. Dan ternyata mereka sekelas.
Nasib.
Bunga memasang muka sekeriting mungkin saat menatap mata anak yang akhirnya ia tahu bernama Choco itu. Choco yang bernama panjang Chocolatte yang berarti ‘coklat’. Dan cowok itu akhirnya duduk sebangku dengannnya sekarang, di kelas dua ini. Bunga tidak tahu bagaimana rasanya dalam neraka. Tidak, sampai akhirnya mereka duduk sebangku.
Awalnya duduk bersama Choco seperti duduk dengan PENYEDOT DEBU. Bunga sangat takut bila mendengar bunyi vacum cleanner. Jadi ia mengibaratkan Choco dengan si ‘penyedot debu’. Hanya itu yang terbayang sewaktu ia duduk dengan Choco. Tapi, lama kelamaan ‘penyedot debu’ dapat mensedot pula hati Bunga.
………………………………………………………………………………
Sekarang ini Bunga penasaran. Choco tidak ada. Memang ia anak yang menyebalkan. Setiap hari ada saja ejekanya terhadap Bunga. Setelah itu ia meminta maaf ke Bunga dengan kata-kata noraknya, sayang, cintaku, mentariku. Tentu saja Bunga tidak merasa tersanjung. Hanya merasa sepi bila tidak mendengar kata-kata itu, walau hanya sehari. Bunga sadar di balik itu semua tatapan Choco berbeda dengan cowok manapun. Lembut, dalam, dan kesepian.
Choco anak yang pintar, bolos adalah hal yang tabu baginya. Dia juga anak piatu. Ibunya meninggal ketika ia masih berumur 7 tahun. Tapi hal itu tak membuat Choco hilang semangat belajarnya. Itu yang membuat Bunga bangga mempunyai teman sepertinya, sehingga membuat pertanyaan, hal apakah yang membuatnnya sampai izin tidak masuk sekolah?jawaban itu Bunga ketahui ketika dua minggu berikutnya.
Pagi sekali Bunga datang ia berharap dengan ia tidak telat, dan agar ia dapat mengetahui jawaban atas menghilangnya Choco dua minggu belakangan ini. Tapi yang ia dapati hanya kelas yang sepi. Bunga duduk di tempat duduknya pada baris pertama bangku yang ke tiga. Dari situ dapat melihat Choco bermain basket setiap jam istirahat. Tapi tidak untuk beberapa minggu ini.
Hari ini ulangan bahasa Inggris-pelajaran kesukaan choco- kalau hari ini Choco tidak datang berarti Choco pasti sudah gila, pikir Bunga.
Bunga melihat kesekeliling kelasnya. Baru ia saja yang datang. Ternyata sepi sekali kalau Choco tak ada. Sampai saat ini sekolah belum mendapat kabar dari keluarga Choco. Bunga mengeluarkan bekal di dalam tasnya. Ketika ia memasukkan ke dalam laci, tangannya tersentuh sesuatu, seperti kain. Lalu bunga mengangkatnya untuk dilihat. Ternyata itu sebuah dasi. Dengan cepat bunga memeriksa kepemilikan dari dasi tersebut. Tertulis di situ c h O c O. Tangan Bunga gemetar. Ini dasi Choco. Sekuat tenaga ia menahan air matanya untuk tidak menagis. Sekuat tanaga juga ia berfikir mengapa ia ingin menangis melihat dasi Choco? Choco kemana? Mengapa dua minggu tidak bertemu serasa dua tahun tidak melihat matahari?
Bunga mendekap dasi itu erat-erat. Sekelebat kejadian diantara mereka berdua terputar di benaknya, saat pertama kali bertemu, saat bertengkar, saat mengerjakan soal bersama, saat Choco mengejek, saat Choco membaca teks bahasa Inggris, saat mereka merawat anak kucing di sekolah berdua secara bergantian, saat Choco bercerita, dan saat Choco dengan kata-kata noraknya sayangku, manisku, cintaku,..Bunga tersenyum sendiri. Oh, betapa rindunya bunga akan kata-kata norak itu untuk terdengar lagi di telinganya. Bunga memandang lagi dasi itu. Jantungnya berdegup pilu. Firasat buruk.
………………………………………………………………………………………………
Entah mengapa, bunga segera mencari kalender. Mencoba mengingat tanggal berapa hari ini. 14 Febuari. .itu berarti HARI INI. Hari ini ulang tahun Choco. Bunga berlari keluar berharap dapat bertemu Choco. Di belakang gereja tidak ada. Harus! Seharusnya dia ada. Karena Bunga pernah berjanji.
Bunga mencari ke tempat mereka memelihara kucing yang ditemukan di sekolah. Sambil mencari, Bunga teringat kata-kata Choco sewaktu mereka menemukan anak kucing itu.

Nasib gw sama kaya anak kucing ini, kita sama-sama kesepian.

Lalu teringat kata selanjutnnya..

Lo harus selalu ada di samping gue yah, gue ga mau ulang tahun sendirian. Udah cukup. Tahun ini, gue mau lo ada waktu gue ulang tahun. Karena emang sepantasnya orang yang berulang tahun bahagia kan?

Saat itu bunga tak mengerti mengapa tiba-tiba Choco berkata seperti itu.Anak aneh. Pikir Bunga.Bunga tiba di tempat anak kucing itu. Nafas Bunga tersengal-sengal.
Benar saja Bunga melihat Choco sedang memberikan makanan pada anak kucing itu.
“udah ketemu pesan gw yang di kolong meja ya..” seru Choco santai sambil tersenyum.
Oh..senyum itu. Sebenarnya Bunga ingin sekali memeluknya. Tapi ia bersikeras menahannya.
“eloh..jahngan..kayah..ginih lagi yah..” kata-kata Bunga tersengal-sengal. kedua tangan Bunga bertumpu pada kedua lututnya yang lemas.
“ga..untuk bersama kamu itu udah ga mungkin lagi..gue udah ga bisa sekolah sayangku..gue ini orang yang ga berguna” Choco berjalan mendekati Bunga terus berjalan sampai mereka berhadap-hadapan. Lalu Choco spontan memeluk Bunga. Aroma Choco rambut Choco tercium oleh Bunga. Hangatnya. Bunga menerima pelukkan itu dengan mengeratkan tangannya ke pundak Choco. Seakan tak membiarkan Choco pergi lagi.
“gue kangen sama elo Co!dari awal gue sadar kalo lo itu orang yang nggak boleh pergi dari samping gue.. jangan ketawa ya!…bagi gue, lo tuh sangat berarti ternyata..”
“aduhh sayangku dari dulu dong ngomong gitu..”
Bunga melepas pelukkannya. “ya..bukan berarti dengan kata-kata gue tadi mengubah pandangan gue, kalo kata-kata lo yang tadi norak tau..”
Choco menarik Bunga lagi kedalam pelukkannya. Bunga coba menghindar.
“……”Bunga speechless. Menyerah. Choco kembali memeluknya.

“denger mentariku..”Choco menghela nafas. Kemudian mengatur suaranya agar lebih halus “gue takut..gue takut ga ada lo di samping gue..Bunga..sekarang ini gue ada di panti asuhan..gue sendirian..sepi..sepi sekali…kalo malam datang tambah dingin…….sepi..dan dingin…….”
Setelah mengucapkan itu, Choco menghilang perlahan dari pelukan bunga.
Bunga terbangun. Ternyata hanya mimpi. Ia ketiduran di bangku sekolah. Mungkin karena tak biasa bangun pagi. Ia jadi sangat mengantuk. Ia melihat ke sekeliling kelas. Ada beberapa anak yang sudah hadir. Tapi sekolah belum juga masuk. Saat melihat ke tangannya rupannya ia masih menggenggam dasi Choco.
Tiba-tiba handphone Bunga berdering. Dengan cepat Bunga mengangkatnnya.
“ya..ha..halo” sapa Bunga tergagap.
“Bunga lo dimana?” jawab Vera teman sekelas Bunga diseberang sana.
“sekolah lah..lo tuh yang ‘di mana’ jam segini belum nyampe..” jawab Bunga.
“ PANTI ASUHAN ..lo dah tau beritanya belom?”
“berita apaan?panti asuhan?”jawab Bunga kembali dengan cepat bercampur rasa kebingungan berat. Sepertinya di dalam mimpinya Choco juga menyebut kata ‘panti asuhan’.
“gue ada di bawah. cepet lo kebawah..”
“ya..iya..” balas Bunga.
Bunga bergegas menuruni tangga dan menemukan Vera di sana.
“udah..tadi lo bilang berita penting apaan?trus panti asuhan kenapa?” firasat buruk terus menghampiri Bunga.

“Choco bunuh diri Bunga..”suara Vera terdengar melemah.
“…….” Bunga terdiam. Merinding. Bingung. “ngga mungkin..lo kalo mo bercanda jangan sekarang. Haha..ga mungkin….” Lutut Bunga melemas…
“Bunga…….gue serius..dia coba bunuh diri… tadi gue denger sendiri Bu Cheryl nerima telpon katanya dari panti asuhan tempat Choco sekarang, ngasih tau kalo Choco dibawa ke Rumah Sakit karena~”
“CUKUP!STOP..ini ngga masuk akal..ngapain dia di panti asuhan?trus kenapa Bunuh diri?lo~”
“ADUH!pas gue tanya Bu Cheryl sih katanya penjelasannya panjang. Sekarang Bu Cheryl lagi jenguk Choco di RS. Clover. Kayaknya gara-gara stress dimasukin ke panti asuhan, dia minum baygon…”
“ver kita harus ke sana sekarang.”
………………………………………………………………………………
Bunga berlari, ngeri membayangkan semua. Choco bertahan ya……
Rumah sakit CLOVER tidak jauh dari situ, cukup naik mikrolet sekali. Dalam 2 menit Bunga tiba di depan rumah sakit tersebut. Tanpa membuang waktu ia masih saja berlari, dengan segera mendapatkan informasi kalau Choco masih di ruang gawat darurat. Demi menyelamatkan nyawa Choco dokter berusaha membuat racun di tubuhnya keluar.
Sementara Bunga menunggu dengan cemas. Kenapa di hari ulang tahunnya? Musibah ini begitu mengejutkan. Bunga merasa ia sangat tidak berguna. Kalau Choco menghilang. Ia takkan pernah mengampuni dirinya sendiri. Mestinya dari awal ia tahu Choco tak sanggup memikul derita itu sendiri. Dari awal Bunga melihat mata Choco menyelimuti kesedihan yang dalam. Belum lagi gossip yang beredar mengatakan bahwa Ayahnya tidak menyayangi Choco ia lebih menyanyangi wanita yang dandanannya norak seperti wanita yang berperan antagonis di film-film telenovela. Sering kali dilihat oleh teman-temannya ayahnya Choco berjalan dengan wanita yang katanya sangat membenci Choco itu. Dan inilah puncaknya.
Bunga menduga mungkin wanita itu adalah calon istri baru Ayahnya. Wanita itu mengincar harta Ayahnya. Maka ia menghalalkan segala cara untuk menghilangkan Choco dalam kehidupan mereka. Dan panti asuhan tempat yang tepat.
Bunga merinding ngeri setelah mendengar cerita dari Bu Cheryl bahwa dugaan Bunga benar. Kejam sekali. Bagaimana bisa begitu? pasti Ayah Choco tidak mengakui Choco sebagai anaknya, dan membuat surat-surat palsu untuk memasukkan Choco ke panti asuhan? Kali ini Bunga tidak berani bertanya. Takut dugaannya benar untuk kedua kalinya.
Suster memberi tahu bahwa operasi pengeluaran racun telah usai dan berhasil. Untung Choco tidak terlambat di bawa ke rumah sakit. Kini Bunga menunggu bersama teman-temannya yang tiba beberapa saat setelah Bunga dan Vera tiba. Mereka membujuk guru-guru agar mengizinkan mereka ke rumah sakit demi memberi semangat pada Choco.
Bunga berkenalan dengan Ibu pemilik panti asuhan. Ialah yang memukan dan membawa Choco ke sini. Tiba-tiba ibu itu menyodorkan sekuntum mawar putih dan surat yang bertuliskan ‘untuk: bunga’. Bunga langsung mengenali tulisan itu. Dengan cepat Bunga membuka amplop polos putih itu dan menemukan selembar kertas yang hanya berisikan satu kalimat saja.

HAPPY VALENTINE! LO MAU JADI PACAR GUE ?

Bunga terpaku. Belum hilang keheranannya, keluar Choco dari ruang UGD bersama Ayahnya disebelah kiri Choco. Dan oh..pasti itu calon ibu baru Choco yang disebelah kanannya. Setelah melihat itu semua, Bunga menatap mata Choco. Choco sehat. Bahkan ceria. Senyum merekah di bibirnya. Semua anak tertawa. Bunga lebih bingung. Entah Bunga ingin memeluknya atau menendangnya.
Bunga menatap Choco, tiba-tiba air matanya menetes. Semua anak berhenti tertawa. Air mata Bunga terus menerus menetes. Sampai ia membutuhkan kedua tangannya untuk menampungnya.
Choco segera menghampiri Bunga.
Bunga dengan sigap menghindar.
“hik..hikk, kenapa lo TEGA bikin malu gue KAYA GINI?! Ini tuh udah kelewatan tau!!” air mata Bunga menutupi seluruh wajahnya.
“bunga..ngga maksud gue bukan gitu, gue cuma mau kasih tau perasaan gue ke elo..”
“YA, tapi kenapa gini caranya Co? ini tuh GA LUCU TAU..lo buat gue~ ” Bunga mengatur suaranya lebih lembut “tadi tuh gue takut banget kehilangan lo..”sambil terus mencoba berhenti menangis.
Choco merangkul Bunga lembut ke pelukkanya. Bunga pun tak menghindar.
“maaf ya kalo caranya harus kaya gini..” Choco membelai rambut Bunga “lo terlalu special untuk dinyatakan dalam cara yang biasa.”
Isakkan Bunga berhenti. Choco melepaskan pelukkannya dengan perlahan.
“gue dah ngerencanain ini semua dari dua minggu lalu demi nembak lo. Dan semua orang dukung gue. Mereka ikut ngrencanain ini semua”lanjut Choco.
Bunga menatap satu-satu semua orang yang telah sukses mengerjainya. Bu Cheryl, temen-temen, dokter, suster, orang tua Choco, ibu panti asuhan…
“ibu panti asuhan juga lo ajak dalam drama lo?dia ibu panti asuhan beneran?” Tanya bunga polos.
“hehe..dia.. dia tante gue..”Choco tersenyum kaku takut Bunga meledak lagi. Dan memang pernyataan tadi membuat Bunga tambah kecewa.
“hu..hu NIAT banget sih ngerjain gue?!kesel..sebelsebelsebel hu..” Bunga kecewa seperti anak kecil yang baru mengetahui kalau ‘sailormoon’ bukan orang nyata.
Kali ini Choco tdak berani lagi menyentuhnya. Ia merasa memang ini terlalu membuat Bunga terlihat bodoh. Ia merasa bersalah. Kemudian ia menundukkan kepalanya, dan mulai bernyanyi..
..you know I can’t smile without you, can’t smile without you
I can’t sing and I can’t laugh
It’s hard to do anything..
Itu adalah lagu yang mereka suka. Ia mencoba mengeringkan pipinya yang basah karena air mata.
Dan kemudian bernyanyi bersama Choco..
You know I feel sad..
when your sad..feel glad when your glad..
………
Semua orang lega melihat Bunga akhirnya tersenyum.
Bunga menatap Choco tak berkedip. Ia menundukkan kepalanya. Lalu kembali menatap Choco yang menanti jawabannya.
“jadi?” Tanya Choco penasaran.
Bunga menghela nafas “menurut lo.. Valentine dapat terus berlangsung bila sekuntum Bunga tidak di sertai Coklat?” Bunga menatap dalam mata coklat Choco dengan senyum nakal.
“sekarang atau sampai kapanpun, gue ngga akan pernah ngebiarin sekuntum Bunga tanpa Coklat. Apalagi pas Valentine.”jawab Choco.
Bunga merangkul Choco “gue juga. Gue nggak akan pernah ngebiarin lo kesepian waktu valentine yang bersamaan sama hari ulang tahun lo ini.” “happy birthday..” bisik Bunga di telinga Choco.
Rasanya semua orang di situ sangat senang sampai ingin teriak sambil bertepuk tangan melihat usaha mereka tidak sia-sia.
Bunga merupakan hadiah ulang tahun yang paling indah untuk Chocolatte.

Memories in Monas

Januari 28, 2008

Senin pagi. Seharusnya murid kelas 3 SMU sedang dikelilingi buku-buku dan sibuk membolak-balik setiap halamannya saat ini. Namun itu tidak terjadi pada Dinar, Carol, Chia, dan Novi. Saat ini mereka malah berada di monas, padahal besok mereka akan melaksanakan UAN. Ujian yang mentukan hidup dan mati mereka.

Rumah Carol dan Novi di Bekasi, Dinar di Ciputat, sedangkan sekolah mereka di Senen, Jakarta Pusat. Semenjak memasuki tahun terakhir di SMU, mereka sepakat untuk kos di rumah Chia yang jaraknya dekat sekali dengan sekolah mereka dan monas. Setelah setiap hari mereka belajar tidak mengenal waktu. Pada hari tenang ini mereka berencana melepas penat ke monas. Dan hari ini mungkin hari terakhir mereka ke monas bersama.

“Rio! Foto di sini donk!” seru Chia ke abangnya.

Rio pun berhenti memainkan skateboardnya dan mengubah fungsi handycamnya dari untuk merekam, menjadi siap untuk memfoto dalam hitungan 15 detik. Segera mereka mengatur gaya seheboh mungkin menunjukan lokasi mereka. Monas.

Rio merekam aksi mereka dari keluar rumah pukul 05.00 lalu perjalanan mereka ke monas yang seperti biasanya hanya ditempuh dengan berjalan kaki-kecuali Rio yang menggunakan skateboardnya- melewati jalan raya Kwitang dan berfoto ditengah jalan yang kosong itu hingga akhirnya mereka tiba di monas.

“lari yuk!” ajak Carol

“ Yu” Novi menerima ajakkan adiknya itu dengan cepat. Walaupun mereka kakak beradik, tapi mereka sekelas . Setiap ada yang menanya mengapa, mereka menjawab ‘karena kami cuman beda setahun, Bapak kami yang menginginkan kami sekalas’.

“ yu Chia!” Dinar mengajak Chia. Seperti biasa Chia yang dijuluki ‘miss lemak’ tidak mau bangun dari bangku monas yang dijadikan tempat tidur olehnya.

Kesal, Dinar berniat mengajak abangnya Chia, Rio untuk berlari bersama. Tetapi Rio sedang asik bermain skateboardnya di lapangan basket, tepat di depan bangku yang mereka duduki.

Dinar akhirnya lari mengitari monas sendirian.

Setelah satu putaran dan enam kali berhenti, ia pun tiba. Terlihat disana Novi dan Carol tampak kelelahan duduk di sebelah Chia yang sedang tidur. Dengan wajah pucat, dan keringat disekujur tubuhnya, Dinar menghampiri mereka untuk meminta minum.

“ pucet banget lo Din..” celetuk Novi sambil menberikan botol minum ke Dinar.

“ hah? Iya yah? Ha..ha..” sahut Dinar dengan tawa yang tersengal kemudian meneguk air di botol sampai habis. Dinar memang memiliki sedikit kelainan pada jantungnya.

Pandangan Dinar langsung tertuju kearah tangan Novi yang sedang memegang tas kecil yang berisi handycam Rio.

“kak Rio mana?” tanya Dinar selanjutnya.

“tuh!” tunjuk Carol dan Novi bersamaan ke arah bangku paling ujung.

Rio tertidur dengan pulasnya.

“abang ade sama aja..” kata Dinar sambil meringis geli.

Rio jarang ada di rumah. Ia sangat sibuk. Tadi malam ia pulang pukul sebebelas malam. Teman-teman Rio selalu mempercayakan pengambilan gambar kegiatan mereka ke Rio. Temannya banyak sekali, dalam sehari ia dapat menerima permintaan ke tiga tempat yang berbeda, dan jauh. Rio tidak pernah menolak. Tidak heran ia juga sering sakit-sakitan. Ia benar-benar sosok teman yang luar biasa.

“coba bentar..” Dinar meminta handycam yang di pegang Novi.

Dengan pengetahuan yang minim tentang bagaimana menggunakan handycam, Dinar mencari-cari tombol ON. Setelah dapat, ia mengarahkan handycam itu ke Rio, lalu menekan tombol untuk RECORD. Terlihat jelas di kamera, Rio yang tertidur di bangku monas yang terbuat dari besi. Pasti sakit tidur di situ. Namun Rio tidur dengan nyenyak. Dinar men-zoom kameranya. Meliahat Rio tertidur seperti itu membuatnya tersenyum lembut. Lama sekali Dinar mengambil pose Rio yang tertidur pulas itu. Ada keinginan dalam diri Dinar untuk duduk disebelahnya dan membelai rambut Rio sekedar meringankan rasa lelah Rio. Tidak. Tidak hanya sekedar meringankan beban Rio, tapi juga menunjukan perasaannya.

“Din, Din, rekam Chia nih baru bangun hihihi..” tunjuk Novi.

Dinar pun mengalihkan kamera itu ke Chia yang mengacak-acak rambut sambil menguap lebar.

“ha..ha..ha..” mereka bertiga tertawa.

“duh laper nih..” celoteh Chia.

“buset..kalo ga tidur, makan..” kata Dinar sambil terus merekam.

“tau liat ni lemak dah numpuk begini!” sambung Carol sambil menunjuk lengan Chia.

Sebelum Novi menambahkan Chia sudah memotong. “ah, emang gue gendut apa?”

“hm, “ Dinar hanya bergumam.

“yaiyalah!” kata Novi dan Carol.

“hahaha..dasar miss lemak” cela Dinar.

“ah, padahal gue sama Dinar kan sama beratnya!masa keliatannya gendutan gue??” Chia membela diri.“si Dinar berat di dosa kali yak?” tambah Chia.

“enak aja berat di dosa, gue mah berat di tulang, emang lo!di lemak!”balas Dinar.

Setelah mereka saling menimpal dan tertawa bersama, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.

“Chia bangunin tuh abang lo.” Suruh Novi.

“ah, males lo aja Din.” Chia mengalihkan ke Dinar.

“yee, abangnya sapa juga.” Tangkis Dinar sambil menekan tombol OFF setelah itu memasukan handycam itu ke tas kecil milik Rio lalu memberikan tas itu ke Chia.

“udah sapa aja kek biar cepet pulang. Laper nih..”Carol yang dari tadi menahan rasa laparnya akhirnya angkat bicara. Karena dari subuh tadi mereka belum ada yang sarapan.

Akhirnya Chia mengalah. Ia bangkit berjalan menghampiri abangnya dan membangunkan abangnya itu lalu memberikan tasnya. Rio yang kelihatannya masih ingin merasakan angin sepoi-sepoi di monas memaksakan badannya untuk bangkit.

Dalam perjalanan pulang, seperti biasa Rio meluncur cepat dengan skatebordnya tapi tetap tidak meninggalkan Chia, Novi, Carol, dan Dinar. Mereka berjalan di atas trotoar sambil mengobrol dan bersenda gurau. Saat Chia melempar topik yang mereka bicarakan ke Dinar ia pun melambatkan langkahnya dan akhirnya mereka berdua berada pada urutan terakhir.

Setelah jarak Chia dan Dinar cukup jauh dari yang lainnya, Chia mengalihkan pembicaraan.

“ jangan lupain janji lo Din.” Celetuknya tiba-tiba.

“ha?janji yang mana?” tanya Dinar bingung. Tapi setelah ia melihat Chia memberikan isyarat dengan melirik ke arah Rio, Dinar pun mengerti.”pasti. pasti gue inget.”kata Dinar bohong.

Chia pernah meminta Dinar untuk jangan menyerahkan hatinya ke abangnya, Rio. Alasan Chia, karena Rio sering membuat wanita kecewa. Dan memang itu dibutikan dengan banyaknya telepon dari wanita yang berbeda untuk Rio setiap hari. Chia tidak ingin Dinar kecewa. Dinar pun berjanji ia hanya sekedar mengagumi Rio tidak lebih. Tapi tidak ada yang dapat mencegah, kalau Dinar, telah melanggar janjinya.

Akhirnya setelah mereka bergantian mengeluh lapar, dan puas berfoto-foto, mereka pun tiba di rumah. Ya rumah mereka. Rumah bagi Novi, Carol, dan Dinar selama 8 bulan terakhir,dan selama itulah Novi memasak untuk Dinar dan Carol. Tarkadang Carol juga memasak, sedangkan Dinar hanya bisa masak nasi goreng.

Novi segera menuju dapur untuk membuat sarapan untuk Dinar dan Carol, yang lain, merebahkan badan mereka di atas lapisan selimut beralaskan tikar di ruang tamu. Chia dan Rio sedang dibuatkan sarapan oleh Ayah mereka. Sambil menunggu, Chia kembali tertidur, kali ini bersama Dinar dan Carol, sedangkan Rio mereview kembali handycamnya.

Saat sedang melihat kembali rekaman di handycamnya, Rio terkejut melihat ada rekaman dirinya yang tertidur di bangku monas. Rasanya geli melihat dirinya sendiri tertidur pulas seperti itu. Rio penasaran siapa yang merekam dirinya. Rekamannya beralih ke Chia yang baru terbangun, lalu terdengar suara dari yang merekam. Tebakan Rio akan pemilik suara tersebut, jatuh kepada Dinar. Itu dibuktikannya karena dalam rekaman tersebut hanya Chia. Novi, dan Carol yang terlihat.

Rio menikamati rekaman yang Dinar ambil sampai habis. Lalu ia mengarahkan handycamnya ke Dinar yang kini sedang tertidur dan menekan tombol RECORD.

……………………………………………………………………………..

Dua bulan kemudian.

Dinar baru saja sampai di rumah dengan semua barang-barang yang diambil dari tempat kos-kosan. Dinar, Novi, Carol, serta Chia telah dinyatakan lulus dengan nilai yang pas-pasan namun, membuat mereka bangga karena murni hasil jerih payah mereka sendiri, ditengah samaraknya jawaban UAN dapat diperjual belikan. Kini Dinar kembali sendiri. Tanpa ada teman-teman disisinya.

Dinar menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan membongkar isi tas yang berisi baju-bajunya. Tiba-tiba tangannya menyentuh benda keras. Dinar menarik benda tersebut. Ternyata itu sebuah CD-R. Dengan rasa penasaran yang besar ia melihat isi CD-R itu.

“pukul 05.00 pagi.” Kata suara di vidio rekaman tersebut. “dan ini untuk terakhir kalinya kita keluar jam segini bersama.” Lanjut suara itu lagi sambil menunjukan gambar Dinar sedang memakai sepatu.

Ternyata itu adalah rekaman sewaktu mereka bersama-sama ke monas sebelum UAN. Dinar memang belum pernah melihat rekaman itu dari awal. Yang ia tahu hanya rekaman yang ia rekam di pertengahan vidio tersebut. Dinar mengikuti rekaman itu, setiap canda yang terdengar, tempat yang terekam, membuatnya ingin kembali ke waktu itu dan menghalangi waktu.

Anehnya dari tadi hanya ada gambar dirinya. Meski ramai terdengar, hanya wajah Dinar yang ada dalam rekaman tersebut. Memang ada beberapa foto bersama, tapi lebih banyak foto Dinar. Bahkan foto Dinar sedang berlari mengitari monas sendirian juga ada.

Lalu tiba pada rekaman yang Dinar ambil ketika Rio tertidur. Sejenak ia terpaku. Ia akan segera terbiasa dengan rindu yang selalu terjaga melihat Rio yang dia sayangi. Vidio berlanjut. Dinar pun terkejut melihat dirinya yang sedang tertidur di kos sepulang dari monas ada dalam rekaman tersebut. Tiba-tiba rekaman itu berganti ke tempat lain. Bangku di monas tempat mereka biasa duduk dan Rio -yang dalam rekaman itu- merekam dirinya sendiri.

“Dinar” kata Rio di rekaman itu. “aduh susah banget nge-shoot diri gue sendiri.” lanjutnya disertai wajah Rio yang bingung dan gambar yang bergertar.

Dinar tersenyum geli.

“mungkin orang-orang yang lewat trus ngeliat gue sekarang ini, mikir kalo gue gila.” Rio menereuskan omongannya. “gue ga tau lo anggep gue apa tapi,” Rio menahan nafas, kemudian melanjutkan “gue nganggep lo special banget .”

Dinar menahan nafas.

“halah pasti gue sekarang keliatan kaya cowo yang gombal. Abis gue gat au lagi harus gimana nyatain rasa yang special ini.” Kata Rio.

“gue emang cowo yang ga pantes buat lo. Lo terlalu baik buat gue. Gue inget lo pernah nungguin gue pulang sampe jam 6 pagi. Padahal enyak gue aja masi tidur. Lo juga yang selalu sibuk ambilin gue makan kalo gue ga mo makan. Itumah emang guenya yang males yak?huehehe..trus.. lo juga yang bantuin gue kalo tugas kuliah gue blom slese. Padahal lo sendiri punya tugas yang harus lo slesein.” “Gue takut banget buat lo terluka.” Rio menatap tajam kearah kamera, kemudian menunjukan karton putih secara bergantian yang bertuliskan Maybe. I’m not. The right. Person. For you. But. You are. The right. Person. For me. To say. Te quiremo.

Dinar meneteskan air mata.

……………………………………………………………………………………

Seminggu kemudian.

Minggu pagi telepon genggam Rio berdering. Tertertera nomor Dinar.

“halo.” sapa Rio

” so what kind of relationship that you want?”

Rio senyum kemenangan.

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.